Ekosistem Gambut di Desa Belanti: Wilayah Budidaya, tapi Tak Bisa Diolah

Deni Arian Nando, dari PantauGambut.id
22 Februari 2018 | Sumatra Selatan

Sawah Lebak adalah lahan pertanian yang berada di kiri-kanan sungai besar, hanya dapat diolah dan ditanami padi saat genangan air telah surut di musim kemarau. Kanalisasi yang dilakukan perusahaan sawit telah menyebabkan sawah lebak Desa Belanti tergenang sejak sembilan tahun silam, para petani pun tidak lagi bisa bercocok tanam di ‘lahan tidur’ ini.

Akibat dari genangan permanen yang disebabkan oleh kanalisasi PT WAJ, Pak Robani terpaksa mencari pekerjaan lain. © Deni A. Nando

Sawah lebak adalah lahan pertanian yang selama musim penghujan sekitar 6 bulan terendam air karena berada di kiri dan kanan sungai besar. Perbedaan sawah lebak dengan jenis sawah lainnya terletak pada sistem perairan, sawah lebak baru dapat diolah dan ditanami padi saat genangan air telah surut di musim kemarau. Namun, selama sembilan tahun belakangan ini sawah lebak di Desa Belanti, Kecamatan Sirah Pulau Padang (SP Padang), Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) telah tergenang secara permanen, termasuk saat musim kemarau sehingga tidak lagi dapat ditanami. Genangan di lahan sawah lebak Desa Belanti disebabkan oleh pembuatan kanal yang berfungsi sebagai cara pengeringan gambut agar dapat ditanami kelapa sawit oleh PT. Waringin Agro Jaya (WAJ).

Genangan air di sawah lebak menyebabkan kerugian sosial ekonomi kepada masyarakat sekitar karena lahan yang dulunya menjadi lahan pertanian masyarakat se-Kecamatan SP Padang kini menjadi lahan tidur dan menyebabkan para petani di kecamatan tersebut beralih profesi. Hal tersebut dialami juga oleh Pak Robani (47), salah satu dari sekian banyak petani Kecamatan SP Padang yang menggantungkan nasibnya di lahan sawah lebak Desa Belanti.

Desa Belanti dalam Ingatan Seorang Petani

Pak Robani, pria kelahiran Desa Belanti empat puluh tujuh tahun silam masih menyimpan kenangan hidup dan cerita-cerita leluhurnya. Menurut sejarahnya, nama Desa Belanti berasal dari banyaknya keberadaan tanaman bebeti (jambu air nasi dalam Bahasa Indonesia atau syzygium zeylanicum dalam bahasa ilmiah) di daerah ini dahulu kala. Bebeti memiliki buah berbentuk seperti popcorn, rasanya manis sedikit kecut, sering menjadi makanan burung punai (treron dalam bahasa ilmiah). Ketika Pak Robani masih kanak-kanak, beliau sering memetik serumpun buahnya untuk sekedar mencicipi di kala ikut orang tuanya bertani. Desa Belanti terletak di kawasan ekosistem gambut dan bebeti memang tanaman yang sering dijumpai di daerah bergambut. Ekosistem gambut Desa Belanti masuk ke zona budidaya sehingga masyarakat dapat mengolahnya menjadi lahan pertanian sawah lebak dengan sistem tandur (tanam mundur). Teknik tandur ini dimulai dengan penyemaian bibit padi di lahan lain, seperti pekarangan rumah petani, lalu nanti dipindahkan ke lahan sawah lebak ketika bibit siap ditanam.

Ketika mulai memasuki usia dewasa, Pak Robani sudah mulai aktif bertani, menanam padi di lahan keluarganya yang berukuran sekitar satu hektar. Pada musim panen Pak Robani tak pernah ketinggalan budaya nyambat (gotong royong dalam Bahasa Indonesia), momentum para bujang dan para gadis ikut membantu proses panen padi sambil mencari jodoh.

Pada tahun 1990-an Pak Robani ingat betul areal persawahan seluas 2.000 hektar di Desa Belanti pernah panen padi besar-besaran, di mana per hektarnya dapat menghasilkan hingga delapan ton gabah. Panen raya di Desa Belanti tersebut menjadikan Kecamatan SP Padang surplus beras. Dari hasil panen tersebutlah, Pak Robani mempunyai modal untuk membangun rumah sendiri. “Sampai akhirnya perusahaan itu masuk...” raut muka tenteram Pak Robani saat mengingat kejayaan petani di Desa Belanti tiba-tiba berganti lesu.

Awal Petaka

Sudah sembilan tahun ini Pak Robani dan petani se-Kecamatan SP Padang tidak bisa lagi berladang di kawasan ekosistem gambut Desa Belanti, khususnya lahan sawah lebak miliknya karena pada tahun 2009, izin pemerintah melalui Hak Guna Usaha (HGU) telah diberikan kepada PT WAJ. Sejak perkebunan kelapa sawit itu ada, para petani di sekitar areal konsesi perusahaan, termasuk Pak Robani merasakan dampak buruk bagi lahan pertanian mereka khususnya di Desa Belanti. Pak Robani dan petani lain tidak dapat lagi melakukan panen padi karena lahan sawah tergenang secara permanen akibat pembuangan air kanal dari lahan gambut yang telah dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

Kanalisasi yang dibuat oleh perkebunan sawit itu merusak siklus pasang surut air di ekosistem gambut. Hal tersebut membuat para petani harus beralih pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Bahkan di tengah sempitnya lapangan pekerjaan sekarang, tidak sedikit mantan petani mau menjadi pengedar narkoba dan pelaku tindakan kriminal lainnya karena tidak memiliki keahlian sesuai kebutuhan untuk bekerja di perusahaan. Namun, Pak Robani yang saat ini beralih mengurus kebun buah milik pamannya, mempunyai banyak pertanyaan di dalam setiap renungannya:

Apakah petaka ini akan selesai? Apakah kami masih bisa bercocok tanam kembali di lahan kami sendiri? Apakah petaka lain masih mengintai kami?

Pak Robani dan para petani dari tiga kecamatan lainnya (SP Padang, Pampangan, dan Jejawi) yang juga mengalami gagal tanam akibat kanalisasi perusahaan, puluhan kali mereka melakukan protes kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI dan PT WAJ. Puncaknya adalah ketika terdapat sekitar 800 petani sawah lebak melakukan protes kepada Pemkab OKI di tahun 2014 dan membuahkan pemberitaan di berbagai media.

Walaupun sembilan tahun sudah berlalu sejak petaka ini berawal, para petani masih saja belum ada kepastian dan kejelasan solusi dari pemerintah. Pak Robani dan para petani lainnya sangat kecewa karena lahan pertaniannya sekarang menjadi lahan tidur. Tentunya tak ada lagi budaya nyambat karena tak ada padi yang akan dipanen dari lahan mereka, para bujang dan para gadis kekinian pun mengalami perubahan budaya tak lagi gotong royong sekuat dahulu karena mereka terpaksa pergi ke luar daerah untuk mencari pekerjaan.

Petaka Ini Masih Berlanjut dan Bertambah

“Selama berbulan-bulan kami hidup dalam kepungan kabut asap. Kebakaran lahan itu terjadi di rawang (wilayah gambut dalam bahasa daerah) yang masuk ke area usaha perkebunan kelapa sawit milik perusahaan, dekat sekali dengan desa kami,” kenang Pak Robani yang usianya hampir mencapai setengah abad.

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 menjadi trauma bagi Pak Robani, mungkin juga bagi seluruh orang di negeri ini. Bagi Pak Robani lokasi kebakaran itu sangat dekat dan menghasilkan kabut yang sangat tebal. Kala itu gangguan kesehatan yang pasti diderita oleh orang-orang di kampungnya adalah sesak napas dan iritasi pada mata akibat perih yang disebabkan oleh kabut asap. Hanyalah hujan yang diharapkannya untuk membuyarkan kabut-kabut tebal itu. Pak Robani berpikir cobaan macam apa lagi yang sedang dikecapnya. Baginya petaka lama pun belum usai, malahan petaka baru kembali datang.

Kebakaran itu terjadi di dalam area usaha perkebunan kelapa sawit milik PT WAJ. Tentunya kebakaran itu awet karena lahan gambut tersebut dikeringkan dan ditanami sawit. Apinya menjalar sampai ke bawah. Proses pemadaman bisa saja berhasil melalui water bombing (pemadaman dari udara yang dilakukan oleh badan yang bertanggung jawab), tetapi belum tentu memadamkan sisa kebakaran yang terjadi di bawah lahan gambut. Hal tersebut terjadi karena kekhasan sifat lahan gambut, mengalami pengerutan jika kering. Lahan gambut yang banyak manfaat positifnya bagi lingkungan hidup contohnya sebagai paru-paru dunia, juga banyak dampak negatifnya jika terbakar seperti asap yang ditimbulkan lebih banyak dan lebih tebal sehingga mengganggu kondisi kesehatan makhluk hidup.

Pak Robani bercerita bagaimana PT WAJ mengambinghitamkan masyarakat sebagai penyebab kebakaran tersebut. Namun, tuduhan tersebut tidak masuk di akal karena kanal yang dibuat oleh perusahaan berfungsi juga sebagai pembatas agar masyarakat tidak dapat masuk ke area perkebunan. Selain itu, sejak dulu masyarakat Desa Belanti telah menerapkan pertanian alami tanpa bakar dengan memanfaatkan ekosistem gambut. Pada akhirnya PT WAJ digugat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas kasus kebakaran seluas 7.371 hektare pada area konsesi milik perusahaan. PT WAJ  terbukti membakar lahan dan dikenakan denda 466,5 miliar rupiah. Jumlah denda yang sangat besar bukan bagi seorang petani? Apalagi Pak Robani berharap denda yang dibayarkan pihak perusahaan bisa berguna pula bagi pemulihan lahan pertanian miliknya dan ribuan petani lahan sawah lebak di Desa Belanti dengan mengatur sistem perairannya (memecah aliran air).

Hitung - Hitungan Sederhana dan Asa Petani Sawah Lebak Desa Belanti

Sejak 2.000 hektar sawah lebak tergenang dan tidak dapat ditanami, Pak Robani mulai berhitung tentang angka kerugian. Jika sedikitnya per kepala keluarga masing-masing mengolah lahan setengah hektare berarti ada 4000 kepala keluarga yang menggantungkan nasibnya dengan berladang di sawah lebak Desa Belanti. Artinya, masalah Pak Robani dan petani lahan sawah lebak Desa Belanti bersifat relevan dan sangat signifikan karena menyangkut kebutuhan masyarakat banyak serta berdampak pada kepentingan publik. Permasalahan lahan sawah lebak di Desa Belanti juga sangat aktual karena memperoleh perhatian publik yang luas di tengah polemik rencana impor beras nasional, dan bersifat urgen atau perlu ditangani segera.

Menurut riwayat Pak Robani, satu hektar sawah lahan lebak di Desa Belanti bisa menghasilkan delapan ton gabah. Jika harga gabah saat ini 6.000 rupiah per kilogram atau 6.000.000 rupiah per ton, artinya 2.000 hektare berpeluang menghasilkan 12 miliar rupiah bagi 4.000 petani se-Kecamatan SP Padang yang berladang di sawah lebak Desa Belanti. Sembilan tahun sawah lebak Desa Belanti menjadi lahan tidur artinya pemerintah melewatkan begitu saja potensi penghasilan sebesar 108 miliar rupiah bagi 4000 petani sawah lebak. Belum lagi harga yang harus dibayar karena budaya gotong royong di Desa Belanti sudah tak sekuat dahulu dikarenakan orang-orang desa sudah berpencar mencari dan melengkapi kebutuhan ekonomi masing-masing.

Kesejahteraan petani sawah lebak seolah menjadi mimpi besar bagi Pak Robani.Beliau sangat berharap akan adanya penyelesaian masalah yang dihadapinya bersama para petani se-Kecamatan SP Padang lainnya.

Sudah sembilan tahun lamanya mereka berlarut dengan masalah genangan air akibat kanalisasi PT WAJ. Akibatnya pendapatan musiman yang mereka gantungkan di ekosistem gambut sulit bahkan tidak bisa mereka raih karena lahan mereka sekarang menjadi lahan tidur. Pak Robani berharap Pemkab OKI ataupun Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serius mengatasi hal ini.

Penulis adalah salah satu peserta pelatihan jurnalisme rakyat Pantau Gambut dan juga relawan di Walhi Sumatera Selatan.

Dukung kami

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-temanmu.