Kehidupan Masyarakat Sungai di Kalimantan Selatan

Simpul Jaringan Kalsel, dari PantauGambut.id
9 Januari 2018 | Kalimantan Selatan

Masyarakat Desa Baruh Jaya sangat bergantung pada air sungai. Hampir semua kegiatan dilakukan dengan menggunakan media air atau sungai. Bahkan, mata pencaharian utama mereka pun berhubungan dengan air atau sungai, yaitu bertani, menangkap ikan, dan beternak binatang air atau rawa.

Masyarakat sungai Desa Baruh Jaya, Kalimantan Selatan. © Simpul Jaringan Kalimantan Selatan

Masyarakat di lahan gambut dikenal sebagai masyarakat sungai (the water people) karena mobilitas dan kehidupan sehari-hari yang umumnya tidak bisa lepas dari air atau sungai. Mereka tinggal di pemukiman yang berjajar di pinggir sungai dengan mata pencaharian utama sebagai petani sawah (rawa), nelayan penangkap ikan, peternak itik dan  kerbau rawa.

Salah satu desa gambut yang terletak di wilayah Kalimantan Selatan adalah Desa Baruh Jaya. Nama desa ini diambil dari kata baruh yang artinya sungai, sawah, atau danau. Daerah ini dahulunya merupakan sungai dan sawah (rawa) yang dikenal dengan nama Desa Tambangan. Namun, sejak tahun 70-an, dilakukan pemekaran di wilayah ini sehingga lebih dikenal dengan nama Desa Baruh Jaya. Seperti umumnya rumah masyarakat Banjar di pinggiran sungai, setiap rumah yang dibangun terbuat dari kayu serta dibuat jauh lebih tinggi di atas tanah dengan tiang yang panjang (rumah panggung). Sebanyak 2.247 kepala keluarga yang tinggal di wilayah ini harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pemukiman untuk bisa sampai ke kebun.

Kemampuan masyarakat Desa Baruh Jaya dalam memanfaatkan potensi alam terlihat dari bagaimana mereka mengatur produktivitas diri.

Masyarakat di desa ini menjadikan sungai sebagai jalur transportasi utama, lahan untuk bertani, serta perairan rawa untuk komoditas perikanan yang terdiri atas ikan haruan (gabus), ikan papuyu (betok), dan ikan sapat (sepat). Bahkan, lahan pertanian pun dimanfaatkan secara maksimal dengan ditanami bermacam-macam sumber pangan yang secara periodik dipanen secara bergantian, seperti gumbili/ubi nagara, kacang nagara, semangka, dan padi.

Masyarakat di wilayah ini, baik laki-laki maupun perempuan, bahu-membahu untuk mengelola potensi alam yang ada. Pada musim tanam maupun perawatan, laki-laki dan perempuan akan sama-sama pergi ke lahan perkebunan. Sebagian perempuan akan memasak di sana untuk menyajikan makanan bagi keluarga mereka dan sebagiannya lagi tinggal di rumah untuk merawat anak-anak. Selepas anak mandiri, barulah mereka akan kembali ikut berkebun.

Selain itu, mereka juga memanfaatkan lahan rawa dan gambut di wilayah ini untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan membudidayakan tanaman maupun ternak. Kebiasaan ini telah dilakukan masyarakat Desa Baruh Jaya jauh sebelum adanya praktik pertanian komersial. Mereka memanfaatkan sumber daya alam yang ada dalam skala kecil dan dalam kurun waktu yang lama secara turun-temurun.

Mata pencaharian utama masyarakat Desa Baruh Jaya adalah bertani sekaligus mencari ikan. Jika musim penghujan tiba, mereka bertani; sedangkan jika musim kemarau tiba, mereka akan mencari ikan (maiwak). Pekerjaan lain yang juga mereka lakukan adalah berdagang, membuat alat-alat rumah tangga dan kerajinan tangan dari bahan logam, emas, dan lain sebagainya. Mereka juga membuka layanan jasa berupa transportasi kelotok.

Desa Baruh Jaya terletak di distrik Nagara, yakni distrik yang dikenal sebagai penghasil buah semangka dan ubi jalar yang dikenal dengan sebutan semangka nagara dan gumbili nagara. Hasil panen buah semangka nagara bahkan mampu memenuhi kuota di tiga provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

“Datuk-nenek kami sejak dahulu bahuma semangka dan gumbili (ubi). Dengan cara seperti ini, banyak orang Nagara yang naik haji (pergi melaksanakan ibadah haji) dari hasil bahuma semangka dan Gumbili.” tutur Pak Hamid, salah seorang petani di Nagara.

Masyarakat Nagara menggarap lahan dengan alam sebagai pengingat dan penanda untuk bertani dan aktivitas lainnya. Meskipun sekarang perubahan musim sulit diprediksi, namun dengan pengetahuan lokal yang mereka miliki, hal itu tidak menjadi kendala.

Lahan pertanian mereka terletak agak jauh dari pemukiman sehingga diperlukan waktu lebih kurang satu jam untuk menuju ke sana dengan melewati sungai besar dan sungai kecil. Hanya ada satu cara yang bisa dilakukan untuk menjangkau lahan tersebut, yaitu dengan menggunakan perahu kecil berkapasitas tiga orang yang dikenal dengan sebutan ces. Hal ini disebabkan oleh masing-masing petakan lahan dipisahkan oleh ray atau kanal atau sungai kecil yang hanya bisa dilalui perahu kecil sejenis ces tersebut.

Begitulah gambaran umum masyarakat Desa Baruh Jaya yang merupakan bagian dari ekosistem gambut dan mampu beradaptasi dengan alam yang ada di sekitar mereka. Untuk itu, pengelolaan gambut dan berbagai kebijakan pemerintah terkait gambut perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat yang telah lama tinggal dan beradaptasi di wilayah gambut.

Dukung kami

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-temanmu.