Mengingat Janji Pulihnya Gambut di Hari Bumi

Muhammad Teguh Surya, dari Yayasan Madani Berkelanjutan
30 April 2018 | Nasional

Sejak 2016 pemerintah berupaya merestorasi 2 juta hektar lahan gambut, ini tentu saja bukan suatu pekerjaan mudah dan akan semakin sulit jika sinergi antar kementerian atau lembaga terkait baik tingkat nasional maupun tingkat daerah belum sepenuhnya terjadi. Perayaan Hari Bumi tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk mengingat dan menjadi koreksi bagi kita bersama dalam mengiringi perjalanan 2 tahun restorasi gambut.

Hutan gambut di desa Parupuk, Katingan, Kalimantan Tengah. © Nanang Sujana/CIFOR

Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesedaran dan apresiasi terhadap planet bumi, namun kini kehadiranya tak jarang dimaknai hanya dengan sekadar menyelenggarakan serangkaian kegiatan seremonial belaka. Kita hampir lupa cara merawatnya, perilaku merusak untuk meraup keuntungan ekonomi sesaat mendominasi aktifitas di bumi hari ini, salah satunya adalah dengan mengekploitasi lahan gambut. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menggantikan ekosistem gambut dengan kebun sawit dan akasia. Seolah-olah bangsa ini telah kehilangan kecerdasannya untuk mengelola lahan gambut secara lestari tanpa merusak fungsi alamiah, namun tetap dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata. 

Dalam momentum hari bumi sudah selayaknya kita merenungkan kembali, ketika lahan gambut kering, karbon akan terlepas dan emisi akan berlanjut sampai simpanan karbon habis atau rehabilitasi dilakukan dan pada saat bersamaan gambut telah kehilangan fungsi utamanya dalam perlindungan dan keseimbangan tata air. Siklusnya pun berganti dari sebuah ekosistem yang memberikan harapan dan kehidupan menjadi malapetaka kronis tahunan. 

Pemerintah sedang berupaya untuk merestorasi 2 juta hektar lahan gambut, sebagaimana yang dimandatkan dalam Peraturan Presiden No.1 tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. Tentunya bukan pekerjaan mudah untuk memulihkan jutaan hektar lahan gambut dengan 4 prioritas sebagaimana yang tertuang dalam dokumen Roadmap Restorasi Gambut Indonesia 2016-2020,  namun akan semakin sulit jika sinergi antar kementerian/lembaga terkait  di tingkat nasional dan daerah belum sepenuhnya terjadi.

Pantau gambut sebagai sebuah platform daring yang dapat diakses secara bebas oleh publik telah mengidentifikasi 7 komitmen penting yang menjadi kunci keberhasilan bagi pemulihan gambut. Terlepas dari beberapa kemajuan di tingkat tapak dan majunya publikasi terkait gambut, masih ada beberapa ruang yang berpotensi untuk mempercepat restorasi ekosistem gambut. Dalam momentum Hari Bumi 2018, hal ini patut menjadi koreksi bagi kita bersama. 

Mengiringi perjalanan 2 tahun restorasi gambut dan dalam rangka mendorong percepatan pemulihan eksositem gambut yang inkusif dan akuntabel, Februari lalu pantaugambut.id menelurkan beberapa catatan penting berupa rekomendasi aksi bagi pemangku kepantingan khususnya pemerintah, diantaranya; 

  1. Diperlukannya peningkatan pemahaman dan pembangunan kapasitas masyarakat
  2. Penguatan koordinasi kementerian dan lembaga terkait di pusat dan daerah
  3. Perlunya transparansi data restorasi gambut
  4. Penguatan supervisi aktivitas restorasi gambut oleh perusahaan
  5. Asimilasi pengetahuan lockl dalam metode pengelolaan gambut yang berkelanjutan 

Harapannya temuan dan rekam jejak restorasi gambut oleh pangtaugambut.id dapat menjadi media bagi para pihak dalam berkontribusi mewujudkan pulihnya 2 juta hektar lahan gambut di nusantara tercinta ini. 

Dukung kami

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-temanmu.